Kamis, 17 Januari 2013

barat vs timur


TERKONTAMINASI BUDAYA BARAT

Budaya barat menyerbu,budaya timur meredup di Indonesia saat ini,mungin seperti akhiran lagu “Indonesia Raya”  itulah indonesia. . . .akan kah  budaya Indonesia yang kaya akan pesona ini akan punah????? Budaya yang menjunjung nilai-nilai sosial masyarakat,ramah tamah,sopan santun kini semakin menipis tergempur budaya barat yang semakin menggila,Semangat menjaga identitas bangsapun tak menggebu-gebu seperti lagu “Maju tak gentar” gencarnya serbuan budaya barat melemahkan identitas bangsa ini.
Dari gaya bahasa atau kode etik berbicara yang serba ceplas-ceplos bak ngomong seenak wudelnya sendiri dan hilangnya unggah-ungguh dalam tata krama dikehidupan masyarakat adalah salah satu cerminan bahwa generasi muda sudah mulai tertular arus budaya barat, realita generasi muda yang gemar mengadopsi budaya luar dengan alasan lebih trendi,gahool, fungky dan lebih PEDE, membawa akibat pada hilangnya jati diri masyarakat ketimuran yang memegang adat sopan dalam artian disegala bidang, sudah kutukan kali yaaaa. . .

Heemmm lihat saja remaja sekarang,mulai dari model pakaian yang serba minim,macam pakaian urung rampung dijahit atau pakaian setengah jadi yang membuka aurat bagi wanita dan mempertontonkan alur bentuk tubuhnya( pakei pakaian tapi kliatan fulgar). Dan model pierching(tindik),tatto,celana jeans model ketat kaya pencil atau celana adknya di pakai yahh. .itu semua lagi ngetrend semuanya sangat mudah dijumpaidi Masyarakat.Kondisi itu adalah salah satu ciri pemuda dan mayoritas masyarakat hingga ke pelosok pedesaan yang secara tidak langsung menggunakan atribut barat dalam kesehariannya. (*plagiat ko bangga. . . .) belum lagi ditambah lifestyle muda-mudi yang gemar ng’club, dugem,mabuk-mabukan memadati tempat-tempat hiburan malam,yang jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma agama, Remaja kini ingin menonjolkan sesuatu yang tidak semestinya, hanya demi kata “waahh”, soal musik saja masyarakat sampe gila-gilaan meniru atau plagiat dari penampilan atau gaya busananya. wAAH. . padahal dari segi iklim dan kultur saja sudah berbeda. Membanggakan musik ala kebarat-baratan, sampai sampai melupakan kekayaan budaya asli Indonesia seperti musik keroncong,campursari,nyinden dll. Tidak apa-apa si ng’fans atau terobsesi itukan selera masing-masing, tapi alangkah baiknya dalamhal musik hanya sekedar menikmati lagu dan memaknai isi pesan lagu tsb, ambil segi positifnya lalu buang jauh-jauh pesan moral yang negatif  pada isi lagu, ga perlu ikut-ikitan meniru gaya/penampilanaya, (ini menurutku lhoo).

Sebenarnaya indonesia lebih kaya dari segi budaya misalnya saja model tindik (pierching) ini sudah tradisi asli suku asmat di merauke dan suku dani di Kabupaten Jayawijaya. Kalau emang niat ingin memakai tindik kenapa ga meniru Budaya asli Indonesia tersebut,selain memperkenalkan Budaya asli Indonesia,kalau memakai tindiknya semakin banyak maka akan lebih dihormati. Nahloo itu baru tindiknya, masih banyak jg budaya asli indonesia yang lain, dengan segudang itu, kenapa masih ikutan, dandan atau style gaya kebarat-baratan padahal kalau diterapkan di indonesia sini jelas2 tidak menjunjung norma ketimuran.
Tetapi semua gejala itu sekarang ini hampir kesemua pelosok desa.Hal itu mengacu pada gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah terkontaminasi budaya barat, akibat secara tak langsung menerapkan pada kehidupan sehari-hari,Padahal peradaban timur sangat bertentangan dengan budaya barat. Tetapi akibat arus informasi yang sedemikain cepatnya digembar-gemborkan membombardir diiklankan melalui media massa membuat mau tak mau masyarakat Indonesia turut terpengaruh untuk mengikuti trend gaya hidup orang barat
Akhirnya, warga Indonesia banyak yang mengikuti arus menerapkan keseharian yg konsumtif dengan berbelaja produck impor bermerk yang serba mahal,meskipun sebenarnya tidak terlalu memerlukan pakaian atau aksesoris lainnya itu, Asalkan bisa senang, terpandang,gaya-gayaan dan tidak dikatakan ketinggalan zaman maka membeli barang-barang mahal pun tidak jadi persoalan. Kalau masyarakat tidak menggunakan dan memperkenalkan product indonesia kekancah dunia, siapa lagi coba yang mau memakai product asli bangsa ini. Iklan: “ pakailah product-product Indonesia” nantinya akan menjadi isapan jempol belaka.

Kaum berDUIT pergi ke mall belanja dan makan direstoran mewah, sedangkan warga desa bergaya seperti orang kota dalam hal berpakaian meskipun kadang jika dilihat terkesan wagu,ga cocok,tidak pantas terlalu memaksakan diri, Semua itu jelas menjadi pegangan bagi diri saya untuk menilai bahwa Bangsa Indonesia sedang sakit atau sedikit ada gangguan, sebab masyarakat meninggalkan budaya timur dengan gencarnya beralih  gaya kebarat-baratan yang tidak sesuai dalam berbagai bidang kehidupan dan sudut pandang.

by. djogie

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar